Cerita Dari Istana Angkasa

Airbus A-380
Airbus A380

Airbus A-380

Pada tanggal tanggal 27 April 2005 tepat pada jam 10.29 pesawat Superjumbo Airbus A-380 terbang untuk pertama kalinya dari bandara Blagnac, Toulouse, Perancis dan membawa 6 kru. Setelah melakukan penerbangan selama 3 jam dan 54 menit, sang superjumbo mendarat kembali di bandara Blagnac

Pesawat Airbus A380 dengan registrasi F-WWOW ini pertama yang dipamerkan pada tanggal 18 Januari 2005 di Toulouse, Perancis mencetak tonggak dalam sejarah pencapaian dalam teknologi dan aviasi.

Pesawat Airbus A-380 tidak saja melambangkan sebuah pencapaian teknologi dan dunia aviasi saja tetapi sebagai lambang kebanggaan dari para negara-negara di Eropa yang terlibat dalam proyek ini.

Pesawat ini juga menggambarkan proses persaingan antara dua pabrikan pesawat terbesar di dunia yaitu Airbus dan Boeing yang tiada henti.

Angkasa yang sejak tahun 1969 dihiasi oleh sang Ratu di Angkasa atau Queen of the Skies kini juga diisi oleh Istana Angkasa atau Floating Palace in the Skies, sebutan untuk Airbus A-380, bagi sang Ratu mungkin akan gembira karena kini telah memiliki istana nya di angkasa, namun tidaklah semudah itu untuk dikatakan.

Era Jumbo sepertinya sejak itu berada di pinggir dari akhir cerita kejayaannya dan era Superjumbo segera dimulai terlebih pihak Airbus sudah mengeluarkan data pemesanan sebanyak 132 buah pesawat untuk Airbus A380-800 dan A380F sebanyak 27 buah

Lahir dari Pandangan Berbeda

Airbus dan Boeing yang merupakan dua pabrikan pesawat terbesar di dunia yang memiliki dua pandangan berbeda dalam melihat perkembangan dunia aviasi dimana mendatang.

Airbus kala itu memandang aviasi di masa mendatang dengan peningkatan jumlah traveler yang tinggi sehingga dibutuhkan pesawat yang dapat menampung lebih banyak penumpang dalam satu penerbangan, maka lahirlah pesawat superjumbo A-380 yang dapat menampung hingga 800 penumpang.

Sedangkan rivalnya, Boeing melihat aviasi di masa mendatang dengan penerbangan point to point dimana maskapai tidak lagi harus terbang ke bandara penghubung atau hub untuk mengambil penumpangnya dari bandara di tingkat kedua menuju bandara tujuan akhirnya, maka maskapai membutuhkan pesawat yang efisien dalam penggunaan bahar bakar dan dapat terbang lebih jauh lagi dan dapat mendarat dan lepas landas di bandara di tingkat kedua atau yang tidak membutuhkan landasan yang panjang, dan sebagai hasilnya adalah Boeing 787 Dreamliner.

A-380 Singapore Airlines

Maskapai Pengguna

Singapore Airlines yang menjadi maskapai pertama yang menerima pesawat ini saat mereka menerima pesawat A380 mereka pertama pada 15 Oktober 2005 dan melakukan penerbangan komersial perdananya pada tanggal 25 Oktober 2005 dengan rute Singapore ke Sydney, Austalia setelah mengalami delay yang cukup lama saat pemberangkatan.

Singapore Airlines adalah satu dari 14 maskapai yang telah memesan pesawat A380 untuk masuk dalam armadanya, mereka adalah Emirates (115 Pesawat), Singapore Airlines (24 Pesawat), Lufthansa (14 pesawat), British Airways (12 pesawat), Qantas Airways (12 pesawat), Qatar Airways (10 pesawat), Air France (10 pesawat), Etihad (10 pesawat), Korean Air (10 pesawat), Asiana Airlines (6 pesawat), Thai Airways International (6 pesawat), Malaysian Airlines (6 pesawat), China Southern Airlines (5 pesawat) dan All Nippon Airways dengan 2 pesawat.

Hingga tahun 2019 Airbus telah menyerahkan 242 buah Airbus A380 dari total 251 pemesanan dan dari 242 pesawat yang telah diserahkan kepada para maskapai pemesanan, hingga kini ada 240 buah pesawat Airbus A380 yang masih berada pada maskapai-maskapai tersebut, kemana yang 2 buah pesawat lainnya ?

Batu Kerikil

Pada tanggal 4 Nopember 2010 media online di seluruh dunia dihebohkan dengan kejadian Qantas dengan nomor penerbangan QF-32 yang mengalami kerusakan mesin di udara dan kepingan bagian pesawat berjatuhan di Batam dan banyak yang mengira ada pesawat yang jatuh saat itu, namun pada kenyataannya pesawat A380 dengan nomor registrasi VH-OQA berhasil melakukan pendaratan di bandara Changi Singapore.

Komite Keselamatan Penerbangan Australia (ATSB)mengeluarkan rekomendasi setelah mengadakan investigasi atas musibah tersebut, khususnya kepada pabrikan mesin Rolls Royce dan semua pengguna A380 dengan mesin yang sama.

Biaya operasional pesawat Airbus A380 sudah menjadi bahan perbincangan di kalangan dunia aviasi karena sangat tinggi nya untuk mengoperasikan pesawat superjumbo ini, tidak hanya dari sisi maskapai tapi juga bandara yang harus menambah fasilitas di bandara untuk dapat disinggahi pesawat Airbus 380 seperti penambahan Garbarata untuk para penumpang di deck atas.

Maskapai Qantas menyebutkan bahwa mereka mengeluarkan biaya sebesar $305,735 untuk penerbangan 14 jam mereka dari Sydney ke Los Angeles dengan Airbus A-380 dan mengangkut 484 penumpang sehingga biaya per jam nya adalah $21,838 sedangkan untuk pesawat Boeing B-777 mereka untuk rute yang sama mereka mengeluarkan biaya $190,422 dan mengangkut 361 penumpang sehingga per jam nya mereka mengeluarkan biaya $13,601.

Data diatas menyebutkan bahwa Airbus A-380 memang dapat mengangkut 34% lebih banyak penumpang dari B-777 tetapi biaya operasional nya 60% lebih tinggi dari B-777.

Akhir Produksi

Airbus sebagai pabrikan pembuat pesawat A380 telah mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan produksi pesawat A-380 pada tahun 2021 setelah maskapai Emirates membatalkan 39 pesawat pemesanannya dan Qantas membatalkan 8 pemesanan.

Berita tentang beberapa maskapai pengguna Airbus A380 akan mempensiunkan A380 dari armadanya juga kian santer terlebih ditengah pandemi Covid-19.

Maskapai Singapore Airlines sebagai maskapai pengguna pertama pesawat A380 juga menjadi maskapai pertama yang pensiunkan A380 dari armadanya pada tahun 2017 dengan nomor registrasi 9v-ska.

Efisien dalam penggunaan bahan bakar menjadi satu hal yang dipikirkan oleh maskapai dalam mengoperasikan pesawat.

Perkembangan yang terjadi pada dunia aviasi memang menunjukan pertumbuhan traveler seperti yang dikatakan Airbus dalam studi mereka namun kecenderungan traveler untuk terbang langsung atau point-to-point membuat para maskapai cenderung untuk memilih pesawat yang lebih kecil dan efisien dalam penggunaan bahan bakar.

Banyak yang mengatakan Airbus A380 adalah sebuah kegagalan namun tidak sepenuhnya benar bila melihat pencapaian teknologi yang ada pada pesawat ini, mereka hanya gagal melihat perubahan dan kecenderungan para traveler untuk terbang langsung.