Saat Afterburner Ngadat

oleh : Aviasi.com |18 November 2020

Saat Afterburner Ngadat
Saat Afterburner aktif (Pixabay.com)

Afterburner adalah sebuah perangkat yang dipasang pada mesin pesawat-pesawat jet tempur militer sebagai penambah tenaga dorong saat pesawat “take off” pada landasan pendek ataupun karena pesawat membawa muatan beban persenjataan yang banyak dan berat.

Sebuah kisah nyata tragedi pada awal awal perjuangan bangsa Indonesia merebut Irian Barat dari Kolonial Belanda setelah TRI KOMANDO RAKYAT dicanangkan oleh Soekarno Presiden Republik Pertama Indonesia pada tanggal 19 Desember 1961 di Jogyakarta.

Pada tanggal 29 Januari 1962 malam hari direncanakan untuk menggerakkan kembali Satuan Tugas Kapal Motor Torpedo Boat (MTB) Angkatan Laut Republik Indonesia guna menyusupkan para pasukan sukarelawan Indonesia di pantai Kaimana yang pada tanggal 15 Januari 1962 yang lalu mengalami kegagalan karena iring-iringan Satuan Tugan ditengah perjalanan disanggong oleh kapal destroyer dan pesawat Neptune Belanda, dimana hanya dua kapal MTB kita yang berhasil meloloskan diri, yaitu KRI “Macan Kumbang dan KRI Harimau” sementara KRI “Macan Tutul” setelah mengadakan perlawanan sengit karena kekuatan yang tidak seimbang akhirnya tenggelam ke dasar laut Arafuru bersama gugurnya Komodor Jos Soedarso beserta sebagian besar anak buah kapal secara katria menunaikan tugas suci demi ibu pertiwi.

Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglima Mandala saat itu berada di Langgur untuk memberikan arahan langsung kepada seluruh awak KRI dan pasukan sukarelawan, karena beliau mengharapkan, operasi kali ini tidak lagi mengalami kegagalan.

Hasil kegiatan patroli dan pengintaian daerah pantai laut selatan pantai Irian oleh dua pesawat Mustang P-51, dipiloti oleh Mayor Udara Aried Riyadi sebagai Flight Leader dan Letnan Udara Wardoyo sebagai wing man melaporkan keberadaan sebuah kapal perang destroyer Belanda di perairan selatan Kaimana.

Panglima Mandala menginstruksikan untuk mengusir kapal perang Belanda tersebut menjauh dari garis lintasan kapal-kapal Satuan Tugas kita agar pelaksanaan tugas penyusupan pada malam hari nanti tidak mengalami hambatan.

Untuk menimbulkan efek yang lebih besar, Panglima Mandala menghendaki agar tugas pengusiran dilakukan dengan menggunakan pesawat MIG=17 yang siaga di Pangkalan Udara Letfuan (posisinya sekitar 15 KM sebelah Selatan Pangkalan Udara Langgur).

Menjelang tengah hari tanggal 29 Januari tersebut, dua buah pesawat tempur MIG-17 telah siap di ujung landasan untuk melaksanakan tugas pengusiran kapal perang Belanda. Pesawat MIG pertama dipiloti oleh Kapten Udara Gunadi sekaligus bertindak sebagai Flight Leader sementara pesawat MIG kedua dipiloti oleh Letnan Udara Slamet sebagai wingman.

Aba-aba “Rolling…..Rolling……GO”. terdengar dari Kapten Udara Gunadi yang segera meluncur dengan kekuatan penuh, diikuti oleh Letnan Udara Slamet dengan interval 5 detik yang juga meluncur dengan kekuatan penuh di belakang Kapten Udara Gunadi.

Landasan pacu Letfuan memang tidaklah cukup panjang untuk mengudarakan pesawat tempur MIG-17 apalagi dengan membawa muatan amunisi penuh, sehingga harus dengan menghidupkan “after burner” sebagai tenaga dorong tambahan.

Ujung landasan semakin mendekat ketika Kapten Udara Gunadi menyadari akan “after burner” yang ngadat alias tidak bekerja sebagaimana mestinya. Dalam keadaan kritis Kapten Udara Gunadi secara reflex menarik stick untuk memaksakan pesawat mengudara, namun dengan kecepatan pesawat yang belum cukup untuk mengudara, pesawat memang terlihat menanjak sebentar lalu terhempas sekitar 300 meter di ujung landasan. Pesawat meledak, Kapten Udara Gunadi gugur sebagai kusuma bangsa akibat “after burner” yang ngadat.

Letnan Udara Slamet yang berhasil mengudara, namun melihat kejadian pesawat Kapten Udara Gunadi persis di depan matanya menjadi sangat panik, tidak tahu apa yang akan dilakukannya selain berteriak-teriak histeris. Beruntung, ada Letnan Udara Utomo yang menerbangkan jenis pesawat UF-2 Albatros sebagai pesawat SAR memberikan instruksi dan saran-saran agar Letnan Udara Slamet terbang saja dengan relax, berputar-putar di atas landasan sambil menghabiskan bahan bakar cukup untuk mendarat saja.

Dengan mengikuti instruksi dan saran dari Letnan Udara Utomo, akhirnya Letnan Udara Slamet berhasil mendarat dengan selamat di Letfuan.

Dari misi mulia yang merenggut nyawanya, Kapten Udara Gunadi perwira yang baru berumur 31 tahun itu, dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional dan mendapat penghargaan Bintang Sakti dari Pemerintah melalui Keputusan Presiden nomor 14/Tahun 1963, tanggal 29 Januari 1963.