Aviasi dalam Pandemi

Aviasi Dalam Pandemi

Aviasi.com 28 Septemeber 2020

Industri Aviasi sebagai salah satu industri terbesar menjadi industri yang awal terkena dampak dari Pandemi Covid-19 yang disebabkan drastinya penurunan jumlah orang yang berpergian dengan transportasi udara.

Pandemi Covid-19 yang masih berada ditengah-tengah kehidupan kita memberikan dampak yang sangat luas utamanya pada perekonomian, tidak hanya satu negara namun hampir semua negara didunia dimana negara-negara maju pun tidak luput dari dampak dari Pandemi ini.

Aviasi sebagai salah satu industri terbesar yang memberikan kontribusi pada perekonomian dihantam oleh pandemi Covid-19 sebagai akibat dari turunnya jumlah permintaan dari penggunanya.

Penurunan tersebut bukan hanya sebagai akibat dari ditutupnya pintu gerbang oleh semua negara saja melainkan kekhawatiran masyarakat terutama pengguna transportasi udara akan terpapar Covid-19.

Dampak dari Pandemi Covid-19 pada industri sangatlah luas karena Aviasi tidak saja mencakup penerbangan melainkan banyak sektor lainnya seperti bandara, pabrikan pesawat, perusahaan penyewaan pesawat hingga semua pelaku ritel di bandara seperti kafe,restoran dan toko ritel lainnya.

Untuk dapat melihat seberapa luas dampak Pandemi pada industri Aviasi ini, mari kita coba melihat dari sektor-sektor yang ada pada industri Aviasi itu sendiri.

Penerbangan

Penerbangan sebagai sektor utama Aviasi adalah sektor pertama yang terkena dampaknya dengan kosongnya kursi-kursi pada seluruh penerbangannya yang mendorong maskapai untuk bertahan dengan memparkir pesawat hingga pada pengurangan biaya yang membawa dampak pada karyawannya.

Pesawat-pesawat dalam armada maskapai yang biasanya mendarat dan lepas landas, pada awal pandemi lebih banyak yang berdiam di bandara,di apron, di landasan pacu hingga di tempat penyimpanan dan peristirahatan pesawat atau Aircraft Boneyard .

Tidak semua maskapai memiliki likuiditas yang kuat dan jika pun kuat, maskapai tersebut tetap musti melakukan pengurangan biaya di semua lini perusahaannya untuk dapat bertahan.

Bagi maskapai yang tidak berada pada posisi keuangan yang kuat terpaksa gulung tikar seperti maskapai leisure Thomas Cook pada awal pandemi, sedangkan yang lain berusaha mencari bantuan seperti kepada Pemerintah dimana maskapai itu berada.

Dengan tidak ada penerbangan baik itu domestikm regional dan internasional pada awal-awal pandemi, bandara yang biasanya ramai dengan lalu lintas pesawat dan orang serta barang berubah menjadi lahan parkir pesawat-pesawat dari armada maskapai

Tidak ada kedatangan dan keberangkatan pada pengguna maskapai serta pesawat yang lepas landas dan mendarat bagi bandara adalah pengurangan pada pemasukan mereka.

Selain hilangnya pemasukan dari maskapai, bandara juga kehilangan pemasukan dari para vendornya seperti toko ritel, kafe dan restoran dan tidak ketinggalan airport dan airline lounge yang beroperasi didalam bandara.

Pemasukan dari biaya parkir tidak hanya hilang dari para maskapai yang menggunakan jasa bandara melainkan juga dari kendaraan-kendaran dari pengguna bandara tersebut.

Pabrikan Pesawat

Pabrikan pesawat terbang yang merupakan bagian dari industri Aviasi tidak ketinggalan terkena dampak Pandemi karena para pelanggannya yang kebanyakan adalah maskapai juga tengah bertahan dengan mengurangi beban biaya disana sini.

Jangankan melakukan pemesanan, beberapa maskapai pun terpaksa harus melakukan pengalihan waktu penyerahan pesawat yang telah dipesan sebelum pandemi untuk menjaga likuiditasnya

Hal ini jelas mengganggu likuiditas atau cashflow dari pabrikan pesawat untuk menyelesaikan pemesanan dari pelanggan lain mereka sehinga sebagai akibatnya pihak pabrikan pesawat harus mengurangi jumlah produksi pesawat mereka.

Pengurangan prduksi juga berarti pengurangan karyawan dan ini adalah hal yang dihadapin oleh pabrikan pesawat selama pandemi berlangsung.

Perusahaan Leasing

Hampir semua maskapai melakukan pembelian pesawat-pesawat mereka melalui perusahaan leasing dan ketika maskapai menghadapi keadaan keuangan yang sulit seperti pada Pandemi ini, maka sebagai dampaknya adalah para maskapai tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada pihak leasing.

Disaat yang sama pihak leasing pun harus bertahan dengan menjaga likuiditas mereka di tengah Pandemi ini dan keadaan akan lebih sulit lagi ketika tidak ada pemasukan.

Perusahaan Ritel

Para pelaku ritel yag beroperasi bandara seperti restoran,kafe,toko cinderamata serta toko ritel lainnya juga tidak ketinggalan terkena dampak Covid-19 dengan sepinya bandara dari pengguna jasa transportasi udara yang merupakan calon pembeli mereka.

Dan sebagai dampaknya pula, banyak dari mereka yang harus menutup usahanya di bandara dan hal ini juga membawa pengaruh kepada para karyawannya.

Walau demikian ada beberapa yang dikabarkan mengalami kebalikan dari sektor-sektor di atas seperti maskapai kargo yang mengatakan mereka mengalami peningkatan yang cukup berarti pada permintaan pengiriman barang melalui jasa mereka.

Selain itu maskapai pada sipil private seperti penyewaan pesawat terbang atau air charter juga menyatakan adanya permintaan akan penerbangan dari para air traveler yang ingin melakukan perjalanan tanpa berbagi dengan penumpang lain di tengah Pandemi ini.

Aviasi merupakan Industri yang besar dan tidak hanya meliputi aktivitas di sektor penerbangan saja melainkan terdapat sektor lainnya yang merupakan kesatuan sehingga bila satu sektor terkena dampaknya maka sektor lainnya juga terkena dan itu sangatlah luas.