Titik Balik Seorang Pilot

Aviasi.com
Ketika di kokpit, penerbang menjadi kesatuan dari Pesawat
(foto : Pixabay.com)

Aviasi.com 14 Agustus 2020

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh sebuah fakta mengenai seorang penerbang maskapai di Amerika yang dipenjara karena terbukti mengkonsumsi minuman beralkohol melebihi dari batas yang dianjurkan serta beberapa kasus di Indonesia dimana kita melihat di berita ada pilot yang tertangkap mengkonsumsi narkoba dan melakukan tindakan tidak terpuji.

Seorang penerbang memang manusia biasa sama dengan seluruh penduduk dunia ini hanya saja ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang penerbang, ia pasti sudah mengetahui segala bentuk konsekuensi serta tuntutan dari profesi tersebut terhadap dirinya..

Tidak ada penerbangan yang sempurna, akan selalu terjadi kemungkinan adanya gangguan selama penerbangan,baik itu teknis maupun non teknis, namun biasanya kebanyakan teknis yang selalu menuntut seorang pilot untuk selalu dalam keadaan sadar dan fokus dalam mengendalikan segala situasi yang terjadi.

Keadaan sadar bukan berarti tidak tidur atau Lelah namun juga terbebas dari segala pengaruh yang dapat mempengaruhi segala tindakan dan keputusan yang diambil.

Seorang penerbang maskapai di Amerika tersebut dan bersama teman seprofesinya pergi ke Bar pada malam sebelum dia terbang dan tidak ada rencana untuk meminum alcohol berlebihan sebelumnya namun mungkin karena suasana dan lainnya, dia justru meminum melebihi dari yang seharusnya.

Badan Penerbangan Amerika (FAA) memiliki aturan untuk seluruh pilot untuk tidak mengkonsumsi alkohol 8 jam sebelum penerbangan, dan di maskapai tempat ia bekerja justru 12 jam sebelum penerbangan, tergantung dengan jenis alkoholnya

Keesokan harinya saat ia memulai penerbangan pada jam 05.30 pagi beberapa petugas dari FAA telah mengingatkan dia akan peraturan untuk tidak mengkonsumsi allkohol 8 jam sebelum penerbangan dan ternyata ada seseorang yang melihat dia di Bar pada malam sebelumnya dan melaporkannya.

Titik Balik Seorang Pilot
Instrumen bisa hanya berupa indikasi awal, sedangkan kontrol pesawat ada pada penerbang (Foto: Pixabay.com)

Dia tetap terbang dan berhasil mendarat selamat ditujuan akan tetapi sesampainya ditujuan, beberapa orang dari pihak maskapai dan FAA telah menunggu dia.

Setelah dilakukan tes, kandungan alcohol dalam dirinya adalah 3 kali lipat dari batas yang dianjurkan oleh FAA, dan karena hal tersebut dia dipenjara selama 8 bulan dan harus melakukan perawatan untuk menghilangkan kecanduan alcohol selama 5 bulan.

Pada usia yang masih tergolong panjang untuk tetap berkarir sebagai pilot dan berpenghasilan cukup lumayan, kini dia harus berada di penjara dan bangkrut serta ijin sebagai pilot dicabut serta seluruh jam terbang yang telah diraih olehnya hilang.

Untuk menjadi seorang pilot membutuhkan proses yang tidak singkat namun beberapa botol alcohol dapat mengakhiri segalanya secara instan.

Penerbang memang manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan namun saat pilot duduk di kokpit dia sdh menjadi satu kesatuan sistem pesawat terbang dimana kualitas output sistem, terutama keselamatan penerbangan sangat tergantung pada kualitas penerbang.

Bagi pilot maskapai di Amerika tersebut, satu-satunya jalan baginya adalah berhenti mengkonsumsi alcohol dan kehilangan pekerjaan, dan walau sebagai mantan militer dimana berhenti berarti menyerah, namun itulah satu-satunya jalan untuk meneruskan kehidupan.

Dalam keadaan bangkrut dan dipenjara, beberapa temannya seprofesi pilot membantu dia dengan pembayaran cicilan rumahnya dan setelah dia keluar dia bekerja di sebuah klinik dengan bayaran per jam dan jumlahnya jauh lebih kecil dari profesi dia sebagai penerbang.

Dalam keadaan sulit, teman-teman seprofesinya membantu lagi dengan meyakinkan seluruh pihak untuk dia kembali ke kokpit serta mengembalikan jam terbang yang telah ia raih selama hidupnya.

Pada akhirnya dia dapat kembali ke kokpit setelah adanya usaha dari teman-teman seprofesinya serta dukungan dari banyak pihak.

Penerbang memang manusia biasa namun sama seperti pada semua profesi yang memiliki keahlian khusus, seorang penerbang adalah manusia biasa tapi manusia biasa yang professional baik saat berada di dalam kokpit maupun di luar kokpit.

Akan tetapi sebagai manusia biasa yang profesional juga, pasti tidak akan luput dari kesalahan yang berakhir pada titik balik adalah hal yang sangat manusiawi tinggal tergantung pada setiap insan masing-masing dalam menentukan kapan hal itu akan dilewatinya, apakah sedini mungkin atau nanti ketika segalanya seperti sudah terlambat walau bukan akhir dari segalanya.

Begitu pun dalam kehidupan sosial, seorang penerbang adalah manusia biasa yang gemar bersosialisasi serta bergaul bersama orang-orang lain dan ketika saat nya dalam kesulitan, bantuan berdatangan dari orang-orang yang mengenal kita sebagai teman mereka, tanpa diminta pun.

Sang pilot tersebut juga merasa bahwa dengan menceritakan dan berbagi cerita kepada orang-orang merupakan salah satu cara untuk memberi recovery pada dirinya.

Titik balik memang bukan sebuah akhir dari segalanya namun sebagai titik untuk menjadi seorang manusia yang lebih baik dalam profesi apapun itu termasuk pilot atau kru pesawat lainnya.

Dan mungkin bila penerbang tersebut masih dinas di militer mungkin cerita ini akan berbeda dimana sebagai penerbang militer, profesionalisme tidak hanya sebagai penerbang yang profesional melainkan juga sebagai perwira dimana titik baliknya dimulai sedini mungkin.