Aerotropolis

Aviasi.com

Bandara yang kita kenal saat ini adalah sebagai tempat pergerakan pesawat, orang dan barang saja namun definisi dan fungsi bandara dimasa mendatang akan berubah dengan sebuah konsep yang menjadikan bandara tidak hanya sebagai pusat kegiatan atau aktivitas perekononomian tapi berupa sebuah kawasan perkotaan, sebuah metropolitan, lingkungan untuk kehidupan warga yang nyaman.

Definisi bandara adalah sebuah aerodrome atau sebuah lapangan terbuka sebagai tempat pergerakan pesawat yang memiliki terminal penumpang dan kargo untuk pergerakan orang dan barang disertai fasilitas lain seperti menara pengawas dan tempat pemeliharaan pesawat.

Letak bandara di beberapa negara di dunia yang hampir semua dapat dikatakan berjauhan dengan pusat industri, komersial, logistik dan perumahan serta angkutan lainnya seperti darat dan laut membuat ruang dan waktu sering menjadi kendala bagi kecepatan perpindahan orang dan barang antara bandara dan pusat aktivitas ekonomi lainnya.

Kegiatan ekonomi yang kini semakin global dan pesat maka kecepatan dan keefisienan menjadi peranan penting bagi perusahaan-perusahaan yang saling menggantungkan angkutan udara untuk dapat bersaing dalam era globalisasi tersebut.

Kota Bandara

Aerotropolis adalah sebuah konsep yang akan menggantikan bandara kota menjadi kota bandara, sebuah megapolitan yang mengintegrasikan industri, komersial dan perumahan dengan bandara sebagai pusatnya dengan memaksimalkan angkutan darat yang akan menghubungkan pusat aktivitas ekonomi lainnya dengan bandara atau terintegrasi sehingga ganjalan ruang dan waktu dapat teratasi dengan kecepatan dan efisiensi.

Konsep Aerotropolis pertama diperkenalkan oleh seniman dari New York yaitu Nicholas DeSantis yang menggambar ilustrasi bandara di atap sebuah Gedung yang berada di tengah kota, gambar tersebut terdapat di majalah Popular Science edisi Nopember 1939.

Konsep ini kemudian dibangkitkan kembali oleh John D. Kasarda, direktur pusat angkutan udara pada 'Kenan-Flagler Business School' di Karolina Utara, Amerika Serikat pada tahun 2000.

Menurut John D. Kasarda, jika Kereta Api pada abad ke 19 dan pelabuhan laut pada abad ke 18 telah menggerakan perekonomian maka pada abad ke 21 ini bandara akan melakukan hal yang sama.

Aerotropolis akan menjadi sebuah perkotaan atau megapolitan yang di rencanakan dan didesain sebagai lingkungan dan ranah sosial yang menarik untuk mencapai potensi yang maksimum.

Ilustrasi Bandara (Pixabay.com)

Pro dan Kontra

Banyak pihak yang meragukan konsep ini dengan melihat perkembangan harga minyak dunia dimasa mendatang serta kemungkinan adanya penurunan produksi minyak dunia yang secara pasti akan mempengaruhi sector angkutan udara dan pada akhirnya pada aerotropolis itu sendiri.

Hal lain adalah banyak yang mengatakan bahwa konsep aerotropolis terlalu mengutamakan angkutan udara sebagai moda transportasi yang utama untuk barang sedangkan untuk beberapa jenis barang seperti mobil dan beberapa produk pertanian tidak, sehingga konsep untuk mengintegrasikan antara transportasi laut, darat dan udara memerlukan penelitian yang lebih jauh lagi.

Beberapa orang juga mempertanyakan dengan konsep yang menyatukan komersial dan perumahan ini serta alasan orang untuk tinggal dekat bandara dengan suara bising yang dihasilkan oleh pergerakan pesawat.

Beberapa juga ada yang berpendapat bahwa konsep aerotropolis memang sudah berhasil di beberapa tempat seperti bandara Schiphol di Amsterdam, akan tetapi belum tentu konsep ini dapat berhasil sesuai harapan ketika diterapkan di tempat lain.

Indonesia sendiri melalui Angkasa Pura sudah tertarik dengan konsep ini dan sudah menerapkan pada bandara Kuala Namu dan berikutnya pada bandara Soekarno Hatta.

Pembangunan rel kereta api yang menghubungkan bandara dengan pusat kegiatan ekonomi lainnya menjadi salah satu tanda-tanda tersebut.