Persaingan 3 Pesawat

Aviasi.com | 13 September 2020

Dua Pabrikan Berkompetisi

Airbus dan Boeing sebagai dua pabrikan pesawat terbesar di dunia kini tengah bersaing dalam memikat pengguna pesawat besutan mereka pada pesawat berbadan lebar bermesin ganda dan dengan daya jelajah yang lebih jauh dari pesawat komersial yang ada.

Airbus mengeluarkan pesawat A350 XWB atas jawaban dari permintaan para calon pembeli mereka atas pesaing dari pesawat Boeing B 787 Dreamliner.

Pihak Boeing pun menjawab kembali atas peluncuran pesawat Airbus A350 XWB tersebut dengan mengeluarkan pesawat Boeing 777 generasi ketiga yaitu Boeing 777-8 dan 778-9, dan hal tersebut membuat pesawat A-350 XWB menghadapi 2 pesawat pesaing, tidak hanya satu.

Lahirnya Airbus A350

Saat pabrikan Boeing mengeluarkan pesawat baru mereka yaitu Boeing 787 Dreamliner, para pelanggan dari Airbus mendesak untuk dibuat pesawat pesaing dari Dreamliner, pihak Airbus pun saat itu masih belum yakin bahwa kehadiran Dreamliner akan mengancam pasar dari pesawat besutan mereka Airbus 330.

Pada akhir tahun 2004 pihak Airbus mengumumkan akan membangun pesawat A350 dengan desain turunan dari pesawat Airbus 330 dengan dua varian yaitu A350-800 dan A350-900 dengan masing-masing kapasitas tempat duduk 245 dan 285 tempat duduk.

Pada acara Paris Show 2005 maskapai Qatar Airways memesan sebanyak 60 unit dengan mesin dari General Electric GEnx-1A-72, namun kritikan datang dari pembuat mesin untuk pesawat itu sendiri dan beberapa pelanggan mereka.

Terlebih lagi ketika dua maskapai besar dunia seperti Qantas dan Singapore Airlines lebih memilih Dreamliner daripada A350 saat itu, membuat Airbus harus merubah desain awal A350 untuk menjawab para pelanggannya dan mempertimbangkan jangka panjang dalam merebut pasar di kelas ini.

Pada acara Farnborough International Airshow, Airbus memperkenalkan desain baru pesawat A350 dengan nama A350 XWB atau Xtra Wide Body dimana maskapai Singapore Airlines melakukan pemesanan dengan opsi sebanyak 20 unit.

Pada akhir tahun 2006 pihak Airbus menyatakan akan memproduksi pesawat A350 dalam tiga varian A350-800, A350-900, dan A350-1000 .

Produksi dimulai pada tahun 2008 dan setelah melalui proses sertifikasi dan lainnya, pesawat A350 terbang pertama kali pada 14 Juni 2013 dengan maskapai Qatar Airways sebagai maskapai pertama yang menggunakan pesawat ini.

Lahirnya Boeing 787

Pabrikan Boeing memiliki pemikiran yang berbeda ketika Airbus berencana memproduksi pesawat Superjumbo A380 untuk mengantisipasi lonjakan penumpang di masa mendatang ketika itu.

Boeing tidak hanya melihat dari jumlah lonjakan penumpang saja melainkan juga preferensi dari para pengguna angkutan udara dimana penerbangan langsung atau point to point akan lebih di pilih oleh para air traveler.

Pada awalnya Boeing mengeluarkan program dengan nama 'Glacier' dengan memproduksi pesawat Sonic Cruiser yang memiliki kecepatan sub supersonik antara 0,95-0,98 Mach namun banyak pihak yang menganggap kecepatan memang bagus namun dapat menimbulkan beberapa masalah, salah satunya yaitu pada bandara tujuan ketika pesawat tiba dan bandara tujuan masih tutup.

Pihak Boeing kemudian menggantinya dengan program 'Yellowstone' yang bertujuan untuk mengganti pesawat mereka yaitu Boeing 757 dan 767 dengan pesawat desain baru dengan pesawat yang mereka sebut sebagai Boeing 7E7 ketika itu.

Pesawat Boeing 787-3 lahir dan Nippon Airways sebagai pengguna pertamanya pada tahun 2011 atau dua tahun setelah pesawat melakukan penerbangan perdananya pada 15 Desember 2009.

Akan tetapi karena adanya masalah pada baterai pada pesawat ini dan juga kejadian dimana salah satu pesawat ini dari maskapai Nippon Airways, pengoperasian pesawat Boeing 787-3 dihentikan pada tahun 2013, padahal pesawat ini memang benar-benar sesuai yang diharapkan yaitu dapat melayani rute-rute penerbangan dari pesawat Boeing 757 dan 767 dan sesuai dengan tujuan project 'Yellostone' itu sendiri.

Varian Boeing 787-8 sebagai dasar model dari pesawat Boeing 787 memiliki daya tempuh 14,200 km - 15,200 km disesuaikan dengan kapasitas tempat duduknya yang salah satunya konfigurasinya terbagi dalam 3 kelas dengan jumlah tempat duduk 210 kursi.

Varian Boeing 787-9 dengan badan yang diperpanjang dan memiliki daya tempuh 14.800 - 15.750 kilometer dengan kapasitas tempat duduk antara 250-290 kursi sesuai dengan konfigurasi kelasnya.

Varian Boeing 787-10 akan menjadi pesawat dengan kapasitas tempat duduk 330 kursi dalam konfigurasi 2 kelas dan merupakan varian terpanjang dari varian lainnya.

Setelah dua generasi sebelumnya sukses dalam dunia penerbangan yaitu generasi pertama yang meliputi Boeing 777-200, 777-200 ER dan 777-300 kemudian generasi kedua yang meliputi Boeing 777-200 LR, 777-300 ER dan 777 F untuk kargo, Boeing memutuskan untuk melahirkan generasi ketiga yaitu Boeing 777-8X untuk memodernisasi Boeing 777-200 dan 777-9X untuk memodernisasi Boeing 777-300.

Generasi ketiga pesawat Boeing 777 juga memiliki panjang badan yang lebih dari generasi sebelumnya dimana Boeing 777-8X memiliki panjang 69,79 meter dibandingkan Boeing 777-200 memiliki panjang 63,7 meter untuk menambah kapasitas tempat duduk.

Sedangkan Boeing 777-9X memiliki panjang 76,72 meter dibandingkan Boeing 777-300, hal ini membuat pesawat Boeing 777-9 akan menjadi pesawat terpanjang, bahkan lebih panjang dari Airbus A380 dengan 73 meter ataupun Boeing 747-8i dengan 76 meter.

Proses produksi pesawat ini sudah dimulai pada tahun 2017 dan banyak pihak yang percaya bahwa pesawat Boeing 777-9 akan menjadi Raja Angkasa di masa mendatang, menggantikan ratu angkasa Boeing 747 Queen of the Skies.

Persaingan setelah hilangnya Jumbo dan Superjumbo dari angkasa akan terfokus pada ketiga pesawat ini dan ketika preferensi pengguna angkutan udara di dunia yang lebih memilih point to point atau penerbangan langsung dan ketiga pesawat ini sama-sama dapat mengangkomodir preferensi tersebut, melihat kelanjutan persaingan antara kedua pabrikan pesawat terbesar di dunia akan lebih menarik di masa mendatang.